Minggu, 13 Mei 2012

Akhir Liga Inggris yang Sangat Dramatis



Manchester City kini tahu bagaimana rasanya menjadi juara di injury time, seperti Manchester United di Liga Champions 1999. Liga Inggris musim ini berakhir sangat dramatis.

Sebelum kickoff pekan ke-38, Minggu (13/5/2012) malam WIB, City sesungguhnya tidak besar-besar amat peluangnya daripada MU. Mereka cuma unggul selisih gol, dan bisa tersandung di pertandingan terakhirnya melawan Queens Park Rangers.

Kenyataannya, itulah yang sempat terjadi. Ketika MU memimpin 1-0 di menit 20 atas Sunderland di Stadium of Light, fans City mendadak berdebar-debar sebelum Pablo Zabaleta melumerkan ketegangan itu lewat golnya ke gawang QPR di menit 39. Mereka aman sampai turun minum.


Akan tetapi, ketegangan itu muncul lagi saat babak kedua baru berjalan tiga menit. Blunder Joleon Lescott dalam menghalau bola membuka jalan untuk Djibril Cisse menjebol gawang Joe Hart. Skor berubah 1-1, MU pun dalam posisi siap juara.

Harapan City sedikit membesar ketika gelandang QPR Joey Barton dikartu merah di menit 55. Namun, alih-alih mencair, ketegangan itu malah berubah menjadi kecemasan teramat sangat ketika Jamie Mackie mengoptimalkan sebuah serangan balik QPR. Golnya di menit 66 membuat City kembali tertinggal, dan MU kembali dalam posisi siap juara.

Manajer Roberto Mancini tak punya pilihan lain kecuali menguras semua penyerang yang tersedia. Ia memasukkan Edin Dzeko dan kemudian Mario Balotelli, walaupun juga menarik keluar Carlos Tevez yang tampil kurang mengigit sebagai tandem Sergio Aguero.

Menit demi menit berlalu, kecemasan fans City tak kunjung luntur, doa-doa suporter MU terus dipanjatkan. Publik Etihad Stadium rupa-rupa ekspresinya. Ada yang diam, menutup wajahnya berkali-kali, memegang terus kepalanya, mulai menangis atau meluapkan ketidaksabaran dan kekesalannya. Sebagian yang lebih positif tetap memberi yel-yel dukungan buat Vincent Kompany dkk., bahwa pertandingan belum benar-benar selesai.

Mendekati akhir masa normal babak kedua, ketika peluang City mungkin sudah jauh mengecil, lahirlah pahlawan-pahlawan. Juga “nasib baik” bernama “waktu”, karena ada tambahan lima menit. Di pinggir lapangan, Mancini sudah tidak karu-karuan emosinya.

Dzeko, yang terpinggirkan sejak Tevez dimaafkan Mancini dan kembali sering dimainkan, sedikit membuka harapan melalui golnya di menit pertama injury time. Cukup? Sama sekali tidak. Di seberang sana MU masih tetap unggul atas Sunderland. Saat itu kecemasan The Citizens bercampur dengan harapan terakhir.

Pahlawan kedua datang dari Argentina dalam sosok Kun Aguero. Di menit tambahan keempat, memuncaki semua serangan yang tak henti-hentinya dialirkan City ke jantung pertahanan lawan, Aguero mendapatkan celah itu. Dengan sangat terampil ia mendobrak “parkiran bus” QPR dan menutupnya dengan tendangan jarak dekat yang terlalu sulit dibendung kiper Paddy Kenny, yang sesungguhnya sudah bermain sangat apik di bawah mistar gawang timnya.

Bummm!! Etihad Stadium meledak sejadi-jadinya. Kali itu, gol di penghujung waktu itu benar-benar cukup, lebih dari cukup buat City menjadi pemenang dan juara.

Never, ever, ever seen anything like that in my life! Congratulations to Manchester City, Premier League Champions! “ tulis mantan kapten timnas Inggris Gary Lineker lewat akun twitter-nya.

“Itulah yang membuat liga kami begitu hebat,” komentar manajer Tottenham Hotspur, Harry Redknapp. “Saya sudah berpikir MU juara. Tapi apa yang terjadi sungguh luar biasa. City yang menang. Good luck buat mereka.

Di akhir komentarnya itu Redknapp mengingatkan lagi apa yang sudah jadi “hukum alam” dalam sepakbola. “Itulah sepakbola. Kita tak punya hak untuk meramalkan kekalahan seseorang.”

Sir Alex Ferguson dan barisan MU-nya tentu takkan membantah soal itu. Setidaknya mereka pernah mengalami “keajaiban” ketika tatkala menjuarai Liga Champions musim 1998/1999.

Pada 26 Mei di Camp Nou, Barcelona, MU tertinggal dari Bayern Munich sejak gol Mario Basler di menit keenam. Ketika dewi fortuna seperti tidak berpihak pada mereka, semua orang kemudian terperangah. Teddy Sheringham memulai drama itu dengan mencetak gol penyama di menit pertama injury time, dan semenit kemudian Ole Gunnar Solskjaer menciptakan gol kedua yang membuat “Setan Merah” tiba-tiba menang dan menjadi juara Eropa.

Maka dari itu, termasuk dari pengalaman itu, Fergie memang tak punya alasan untuk tidak memberi selamat pada City atas keberhasilan mereka menjadi juara lewat cara yang sangat dramatis tersebut.

"Saya ingin mengatakannya atas nama Manchester United, selamat bagi tetangga kami," ucapnya."Ini memang akhir yang kejam. Tapi, saya sudah mengalaminya selama 25 tahun terakhir. Ini juga merupakan musim yang dinamis."

Di akhir episode, fans MU harus merelakan gelar yang mereka menangi musim lalu itu, gelar yang sudah mereka koleksi sebanyak 19 kali, kali ini berpindah ke klub terdekat dengan mereka itu. Malam ini dan besok kota mereka pasti tidak keberatan bahwa kota Manchester dikuasai oleh “tetangga yang berisik” itu.

Dan City, mereka sangat berhak untuk “berisik” dan pantas merayakan apa yang baru saja mereka capai: titel pertama dalam 44 tahun, atau gelar ketiga semenjak klub itu lahir di tahun 1878.

Selamat.

Artikel Terkait:

0 komentar:

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

Follow By Twitter

 

NRT LPU. Copyright 2012 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com